Sabtu, 04 Oktober 2014

Keinginan Tanpa Bekal

Berawal dari keterpurukan, diriku semasa smp yang masih labil, tanpa arah, manja, dan hanya memikirkan senang semata. Kini bisa berubah dengan proses cukup berat, dan hanya saya hadapi tanpa bekal, tanpa bakat, dan tanpa dukungan. Hanya karena inspirasi yang berubah menjadi keinginan. 


Perbaikan Hidup
Tiba saat nya bagi siswa-siswi smp yang telah lulus tahun itu untuk mencari sekolah lanjutan berikutnya. Saat itu, banyak teman yang ingin memilih SMK dibandingkan SMA. Mungkin karna keinginan yang ingin cepat kerja dengan mapan. Berawal dari pemikiran teman-teman aku pun terpikat dengan sekolah tersebut. Dan selain itu, aku juga berfikiran ingin seperti kakak ku yang juga lulusan SMK dengan jurusan TKJ.
Senin pagi, aku pun meminta persetujuan orang tua dan di setujui dengan mengantarkanku ke tempat pendaftaran. Dengan beberapa tes, aku pun lulus dengan di tempatkan di jurusan TKJ setelah daftar ulang. Ternyata, nasib tidak membawaku ke sekolah itu. Karena faktor ekonomi yang begitu sederhana, aku pun hanya bisa menerima semua keputusan orang tua. Ayah dan Ibu sepakat ingin mendaftarkanku ke pendaftaran online yang baru-baru itu mengundang banyak perhatian. Aku juga ikut setuju, lalu ayah menawarkanku “sekarang kamu pilih sekolah yang mana?, kalo ayah sendiri pengen kamu di SMA 2 Kota.” “tapi saya lihat banyak teman dari smp yang sekolah disitu, aku pengennya yang jarang ada teman smp.” Sahut ku. Akhirnya nilai ku tidak tercukupi di sekolah yang ayah pilih, dan yang ku pilih SMASage. Aku pun diterima disana setelah menyerahkan berkas-berkas dan daftar ulang. Saat daftar ulang, ku lihat lalu masuk ke sekolah itu. Terkesan baik di mataku yang pada waktu itu berfikir “setelah lulus smp, ku ingin memperbaiki kesalahan dan menjadi orang yang berguna bagi orang lain”. Keinginan itu muncul setelah banyak kenakalan yang ku lalui di masa smp.
Selang beberapa hari, tiba waktunya masuk sekolah pertama yang diisi perbekalan selama mengikuti MOPDB. Teman-teman baru muncul di kelas dan aku mendapatkan kelas X6. Saat itu aku merasa seperti orang awam karena hanya aku yang laki-laki dari lulusan smpku di kelas X6. Tapi, tidak marapuhkan semangatku untuk berkenalan kepada teman-teman baru. Setelah bel berbunyi, tibalah untuk pulang dan yang ku pikirkan “siap-siap susah payah nyiapin perlengkapan”. Hari itu dan besok harinya waktuku menyiapkan perlengkapan. Untungnya, bisa selesai walaupun ada beberapa yang ragu dengan salah benarnya. Hari pertama MOS, aku berangkat tepat waktu yang pada waktu itu maksimal tiba pukul 6 pagi. Ku lihat teman yang telat dihukum sepantasnya dia menyianyikan waktunya. Ternyata disini disiplin sangat diterapkan, sedikit perasaan muncul ingin merubah sikap. Sewaktu pengecekan atribut, lagi-lagi satu kelas rata-rata salah karna permen yang disuruh membawa tidak sesuai ketentuan. Permen Argentina ternyata permen tango, kreatif juga pembuatnya. Setelah pengecekan dilanjut penghukuman, aku pun hanya dihukum 1x karna hanya salah sedikit. Tetapi yang banyak salah juga dihukum malu karna disuruh keliling semua kelas dengan mengungkapkan kesalahan dilanjut bernyanyi, allhamdulillah aku taat peraturan hehehe…

Hari kedua, lagi-lagi gantian aku yang telat karna berangkat dan pulang sekolah boncengan motor teman. Sialnya lagi saat dihukum rambut hasil semir semasa liburan sekolah terlihat kakak osis dan disuruh Pembina mengubah hitam sebelum masuk ke sekolah. Aku pun hanya menyemir hitam dan langsung kembali ke sekolah. Saat semua siswa berkumpul di aula, ditawarkan formulir pendaftaran calon pengurus osis. Perasaanku bimbang, “haruskah aku ikut?”. Dan setelah melihat teman serumah ikut, aku juga ikut karna ku hanya bisa boncengan sama dia. Sore harinya seleksi pertama di mulai. Walaupun aku agak terlambat tapi semangat tidak menghambat. Hukuman pertama ku jalani, hari pertama ini membahas PBB dan saat itu aku mulai belajar dari nol. 
Hari ketiga mos aku agak berubah, hasilnya aku tidak terlambat. Saat di tengah-tengah waktu mos, ada pemanggilan calon pengurus osis berkumpul di lapangan basket. Ternyata, disitu kita diuji mental dan fisik. Ketika kita di bentak-bentak kita tetap tegar, ketika kita ditanya kita bilang siap. Sesuatu pun terjadi saat ditanya “apa alasanmu mengikuti seleksi pengurus osis?”, dan salah satu temanku menjawab “karena ingin balas dendam” dia pun langsung mengundurkan diri dan mengajaku juga. Disinilah kebingunganku “kalo saya mengundurkan diri tidak bisa mewujudkan angan-angan waktu itu, kalo saya lanjut gantian ngak ada teman boncengan” dan pilihan ku mundur dengan alasan “tidak diijinkan orang tua”. Lalu aku di temani salah satu kakak pengurus osis yang memberikan saran dan dukungan agar aku lanjut mengikuti seleksi calon pengurus osis. 
Aku pun termotivasi dan tetap bertahan. Setelah selesei semua calon pengurus osis dikumpulkan di aula dan diuji PBB nya. Saat inilah yang aku ngak bisa lakukan. Aku hanya bisa pasrah belajar PBB. Ketika perbedaan penggerombolan calon pengurus osis. Aku berfikir “mungkin ini kelompok yang ngak lolos, terima hasil apa adanya”, tiba-tiba kakak yang memberi motivasiku menghampiri dan memindahkanku ke gerobolan yang banyak teman. Ternyata aku masuk dalam calon pengurus osis, “terima kasih kak” sahutku, dan dia berkata “setelah masuk pengurus osis dewasakan sikap dan pemikiranmu”. Sebelum pulang sekolah ada pengumuman “calon pengurus osis nanti sore ke sekolah jam 3 tepat”. Aku mulai berfikir “ke sekolah nanti aku di antar siapa”, dan kuberanikan untuk di antar ayah. Setelah tiba, kita dikumpulkan dan kembali di uji pemikiran dan mental. 
Selang beberapa hari aku pun masuk kepengurusan osis dan ingin lebih disiplin berfikir dewasa dalam menghadapi masalah. Aku bersyukur mendapatkan teman-teman pilihan yang baik dan bahagia bekerja menjalankan tugas tanpa pamrih.



Nantikan cerpen selanjutnya ^_^
insyaallah lebih seru :D